Sudah Sepuluh Tahun Aku Tidak Bisa Membahagiakan Suamiku

Di suatu sore, saya medapat telepon dari seorang wanita umur empat puluhan, minta membuat janji untuk bertemu. Masalah yang sedang dihadapinya telah membuatnya putus asa. Sudah menikah selama 10 tahun, tapi tidak bisa membahagiakan suaminya di atas ranjang. Wanita ini  sudah memiliki seorang anak laki-laki yang menginjak usia remaja. Kita sebut saja wanita ini bernama Bunga ( nama samaran ). Secara spesifik, Bunga menyebutkan problemnya adalah dia mengalami vaginismus setiap kali berhubungan intim dengan suaminya. Vaginismus ini muncul setelah kelahiran putra tunggalnya.

Vaginismusadalahgangguan di mana otot di sekitar vagina mengencang dengan sendirinya saat penetrasi seksual. Vaginismus tidak mempengaruhi gairah seksual, namun dapat menghambat hubungan intim. Vaginismus menyebabkan rasa sakit, kesulitan, dan mengakibatkan rasa tidak puas saat beraktivitas seksual.

Bunga sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan tidak ditemukan kelainan apapun pada alat kelamin dan organ reproduksinya. Semua sehat dan berfungsi normal. Menurut dokter, vaginismus yang dialami Bunga ini adalah simptom psikosomatis, diakibatkan oleh stress psikologis. Bunga dianjurkan untuk berobat ke psikiater atau hipnoterapis. Bunga memilih untuk menjalani sesi hipnoterapi.

Saat sesi hipnoterapi, Bunga dapat dengan mudah masuk ke kondisi rileks yang dalam, karena Bunga sudah benar-benar pasrah dan ikhlas. Di kondisi kedalaman yang presisi, dengan hipnoanalisis, pikiran bawah sadar Bunga mengungkap data bahwa akar masalah vaginismus Bunga ini terjadi karena dulu saat Bunga masih TK, Bunga mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh pamannya sendiri. Paman Bunga tinggal di rumah Bunga sampai Bunga kelas 3 SD. Selama itu, sudah beberapa kali Bunga mengalami pelecehan seksual, alat kelamin Bunga dipegang-pegang dan ditusuk-tusuk dengan jari oleh pamannya. Peristiwa ini terjadi saat ayah dan ibu Bunga bekerja. Bunga merasa alat kelaminnya sakit, perasaannya malu, terluka, benci dan marah sama paman. Bunga menutup rapat-rapat kejadian ini dari siapapun, termasuk kedua orangtuanya. Lebih karena takut dimarahi dan malu. Setelah paman sudah tidak tinggal lagi bersama keluarga Bunga, barulah pelecehan seksual ini berhenti. Untungnya tidak terjadi hal yang lebih jauh lagi.

Sejak itu, pikiran bawah sadar Bunga melindungi Bunga dengan caranya sendiri. Dan ini baru ketahuan pada saat Bunga menikah.  Saat malam pertama, Bunga merasa tidak nyaman. Suami  Bunga sabar dan terus berusaha membuat Bunga rileks, Bunga juga berusaha membuat dirinya nyaman. Tapi anehnya, vagina Bunga seperti memiliki pikiran sendiri. Setiap kali ingin penetrasi, otot-otot vagina Bunga menjadi kaku dengan sendirinya dan mengakibatkan vagina Bunga tertutup rapat. Ini semua terjadi diluar kendali dan kehendak Bunga. Ini terjadi terus-menerus sampai akhirnya suami Bunga berhasil melakukan penetrasi, tapi Bunga merasa seperti orang diperkosa.  Untungnya tidak lama kemudian Bunga hamil. Sejak hamil sampai melahirkan, Bunga tidak melakukan hubungan intim dengan suaminya.  Saat usia anaknya menginjak 3 bulan, barulah Bunga berani berhubungan intim dengan suaminya. Tapi, lagi-lagi vagina Bunga menutup dengan sendirinya. Akibatnya, setiap kali berhubungan intim, Bunga merasa kesakitan karena ulah vaginanya yang sering menutup dengan sendirinya.

Ternyata, ada bagian diri Bunga yang selama ini bermaksud melindungi vagina Bunga dari apapun yang menjamahnya, bahkan suami Bunga sekalipun. Bagian diri inilah yang menyebakan terjadinya vaginismus. Bagian diri ini terbentuk saat Bunga usia TK, saat Bunga mengalami pelecehan seksual oleh pamannya. Dengan teknik tertentu, dilakukan pelepasan emosi negatif yang telah dipendam Bunga selama ini di pikiran bawah sadarnya dan edukasi terhadap bagian dirinya yang menyebabkan vaginismus. Setelah semua selesai diproses di level kedalaman pikiran bawah sadar dan Bunga merasakan kelegaan yang luar biasa, , Bunga dibangunkan dari kondisi hipnosis menuju ke kondisi sadar normal.

Selesai hipnoterapi, Bunga merasa lega dan sekarang sudah memaafkan masa lalu dan orang yang telah menyakitinya. Bunga merasa nyaman dengan tubuhnya, nyaman dengan sentuhan pada vaginanya. Dan Bunga kini dapat merasakan hubungan intim yang normal dan menyenangkan bersama suaminya.

 
Penulis : drg. Yosephine Meity L, C.Ht, CT (member of Adi W Gunawan Institut of Mind Technology)