Perkenalkan, namaku Bunga ( nama samaran ). Aku adalah seorang istri dan ibu dengan dua anak laki-laki yang menginjak remaja. Sudah lima tahun ini aku menderita sakit lambung kronis. Istilah medisnya GERD ( Gastroesophageal Reflux Disease ). Bila penyakitku ini kambuh, asam lambung terasa naik sampai ke dada, ulu hatiku sakit, nafas jadi sesak, sulit untuk menelan. Akibatnya, kondisi fisikku menurun drastis, begitu pula dengan berat badanku. Aku gampang capek, lemas, tidak berdaya. Pekerjaanku juga terganggu. Masih bersyukur perusahaan tempatku bekerja mengerti kondisiku, sehingga aku diperbolehkan masuk kerja seminggu 1 kali.
Memang, aku ini gampang sekali cemas, cenderung cemas berlebihan. Terlalu banyak berpikir yang tidak perlu. Hampir semua hal aku cemaskan. Sejak menderita GERD ini, kecemasanku makin parah. Aku takut mati, takut berada di keramaian, jangan-jangan nanti sesak nafasku kumat, padahal belum tentu terjadi demikian. Aku takut setir mobil sendiri, takut pergi jauh, semua takut, khawatir penyakitku ini bisa kumat sewaktu-waktu. Tapi di satu sisi, aku ingin melawan kecemasan berlebihan ini, aku mau kembali menjadi diriku yang sehat, energik dan bisa beraktifitas dengan normal tanpa khawatir penyakitku kambuh. Aku ingin jalan-jalan bersama keluarga untuk berlibur. Tapi semua niat itu hanya tinggal niat, rasa cemas dan takut lebih mendominasi. Aku merasa tubuhku makin lemah, berat badan turun drastis, aku jadi gampang lemas.
Aku tidak mau begini terus. Aku tidak mau diperbudak oleh penyakitku. Sangat tidak nyaman hidupku selama lima tahun terakhir ini. Sampai suatu hari aku membaca tulisan tentang hipnoterapi, yang menurut hasil riset dan penelitian ilmiah, terbukti dapat membantu mengatasi masalah emosi yang dapat dirasakan di tubuh fisik. Mungkin inilah harapan untukku, melalui hipnoterapi, aku dapat bangkit lagi tanpa rasa cemas dan takut, dan dapat mengalahkan penyakit GERD ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuat janji dengan hipnoterapis, drg. Meity, untuk menjalani sesi hipnoterapi. Drg. Meity menjelaskan bahwa hipnoterapi ini adalah pengobatan komplementer, yang melengkapi pengobatan medis. Jadi untuk urusan penyakit tetap harus berobat ke dokter, hipnoterapi membantu menyelesaikan masalah emosi yang bisa mencetuskan masalah yang terjadi di tubuh fisik. Penyakit pada tubuh fisik yang muncul seiring dengan meningkatnya intensitas emosi negatif di dalam diri disebut penyakit psikosomatis. Apakah GERD yang aku derita ini termasuk penyakit psikosomatis? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, hipnoterapi membantu untuk mengatasi masalah emosi. Untuk masalah fisik, tetap berobat ke dokter. Setelah mendapat penjelasan yang lengkap dari drg.Meity, aku mantab untuk menjalani sesi hipnoterapi. Karena setiap kali aku merasa cemas atau takut, dadaku langsung sesak, mual, perutku sakit. Menurut dokter, itu karena asam lambungku naik yang pemicunya adalah pikiran stress.
Agar dapat dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang dalam, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
- Pasrah dan ikhlas.
- Ada niat sungguh-sungguh dari dalam diri sendiri untuk sembuh, berubah menjadi lebih baik, bukan atas suruhan orang lain.
- Tidak menganalisa.
- Mengikuti bimbingan terapis dengan sungguh-sungguh.
- Percaya kepada terapis.
- Harus total, all out, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.
Karena aku benar-benar ingin sembuh, ingin bebas dari rasa cemas dan takut yang selama ini menyiksaku, ingin bisa menikmati hidupku bersama anak-anakku dan suami, aku mengikuti semua petunjuk yang diberikan drg. Meity. Seingatku, rasa cemas dan takut ini pun sudah ada sejak sebelum aku didiagnosis menderita GERD. Tapi kejadian apa yang memicu sehingga aku gampang cemas dan takut, aku lupa.
Sesi hipnoterapi pun dimulai setelah drg. Meity melakukan wawancara mendalam terhadap diriku, yang berkaitan dengan masalah yang ingin kuselesaikan. Pada saat masuk kondisi hipnosis, yang aku rasakan adalah ngantuk sekali, badan seperti melayang, mata terasa berat sehingga sulit untuk membuka mata, tapi suara drg.Meity masih bisa aku dengar. Aku merasa seperti menyusuri lorong waktu, rasa cemas dan takutku muncul begitu hebat. Aku merasa berada kembali di ruang NICU Rumah Sakit, di kejadian setelah aku melahirkan anak ke-2. Bayi mungilku harus masuk inkubator, dirawat karena ada masalah di paru-parunya. Aku merasa cemas, panik, takut. Anakku yang pertama masih umur 1 tahun, aku sudah melahirkan lagi. Ibuku jauh di kampung. Kedua mertuaku sudah meninggal. Sanak saudara semua ada di kampung. Aku benar-benar seorang diri di perantauan. Suamiku yang anggota TNI sering dinas keluar daerah. Aku hanya ditemani seorang Asisten Rumah Tangga yang masih ABG. Aku benar-benar bingung, cemas, takut tidak bisa merawat anak-anakku dengan baik. Apalagi yang pertama masih baru belajar berjalan, adiknya juga dirawat di NICU. Aku menangis sejadi-jadinya. Suamiku memang ada di sampingku, tapi sebentar lagi sudah berangkat dinas lagi. Aku belum pernah merasa cemas dan takut seperti ini sebelumnya. Rasanya sungguh tidak nyaman.
Entah bagaimana, aku merasa dibimbing untuk melepaskan semua rasa cemas dan takut yang selama ini menjadi bebanku. Saat melepas semuanya, tubuhku seperti melayang, ringan rasanya. Dan tiba-tiba dadaku terasa lega, seperti lepas dari beban. Tubuhku terasa hangat, nyaman sekali. Aku melihat diriku yang sekarang, melihat anak-anakku, si sulung dan si bungsu telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan kuat. Tidak ada lagi alasan untuk menyimpan rasa cemas dan takut ini, tidak ada gunanya sama sekali. Aku memaafkan diriku, memaafkan keadaan dan aku bersujud mohon ampunan kepada Tuhan karena tidak dapat melihat berkah yang sudah aku terima dariNya, karena aku larut dan tenggelam di masa lalu.
Sekarang aku bebas, lega, nyaman. Aku membawa rasa nyaman ini menyusuri lorong waktuku, ke masa laluku, masa sekarang dan masa depanku. Sekarang aku adalah Bunga yang baru, Bunga yang optimis, kuat dan sehat. Aku adalah tuan atas pikiranku, aku mampu mengendalikan pikiranku. Hanya hal-hal yang baik yang terjadi dalam hidupku. Aku merasa dibimbing untuk dapat menemukan hal-hal baik yang terjadi dalam hidupku, yang selama ini tidak bisa aku lihat karena tertutup kabut pikiran-pikiran negatif.
Setelah itu, aku dibimbing untuk kembali ke kesadaran normal. Aku telah membawa pemahaman baru tentang peristiwa yang dulu membuatku cemas dan takut. Sekarang tidak lagi. Aku merasa lega, nyaman, bersyukur. Aku memetik hikmah dari peristiwa tersebut. Tidak disangka, rasa cemas dan takut yang menghantuiku selama bertahun-tahun ternyata bersumber pada kejadian saat aku melahirkan anak ke-dua. Sebenarnya kejadian ini netral adanya, tergantung bagaimana kita memaknai kejadian tersebut. Jika dimaknai positif, maka yang terjadi selanjutnya dalam hidup kita adalah hal-hal yang positif. Dan memang tidak ada gunanya tenggelam dalam masa lalu, karena akan membuat kita makin lemah secara mental dan fisik. GERD yang aku derita ini selain karena awalnya sering telat makan, diperparah oleh emosi negatifku di masa lalu. Setelah emosi negatif yang membebaniku ini dilepas, aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Tubuhku terasa lebih berenergi, optimis dan semangat menyongsong masa depan bersama anak-anak dan suamiku