Untuk Para Orangtua, Jagalah Perkataanmu, Karena Ucapanmu Adalah Doa
Di suatu pagi, saya kedatangan seorang klien wanita usia 43 tahun, kondisinya agak ngantuk karena minum obat penenang. Obat penenang ini diresepkan oleh psikiater yang merawat klien, agar klien lebih tenang, dapat meredam emosinya yang meluap-luap. Klien rutin minum obat penenang ini sudah 18 tahun belakangan ini.
Masalah utama yang dikeluhkan klien adalah ingin bisa meraih kepercayaan dirinya yang sudah lama hilang dan bisa bekerja lagi seperti dulu. Klien bercerita, di awal tahun 2000, tiba-tiba klien terserang penyakit aneh, saat klien sedang bekerja atau pergi ke suatu tempat, pandangan klien bisa tiba-tiba berputar, keluar keringat dingin, badan lemas dan pingsan. Klien langsung memeriksakan diri ke dokter spesialis dan dilakukan serangkaian tes laboratorium, pemeriksaan otak, jantung dan serangkaian pemeriksaan lainnya. Hasilnya : tidak ditemukan kelainan apapun, klien dinyatakan sehat dan normal. Tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter di sini, klien pergi ke Singapura untuk mencari second opinion dari dokter-dokter di sana. Hasilnya sama : klien dinyatakan sehat, tidak ada kelainan apa pun pada organ-organ tubuhnya. Akhirnya klien dirujuk untuk berobat ke psikiater karena diduga penyakit aneh klien ini muncul karena afa gangguan psikis. Klien mengakui bahwa memang klien merasa hidupnya tertekan, seperti ada beban berat, tapi klien sendiri bingung kenapa bisa merasa seperti itu.
Menjalani perawatan psikiater, klien merasa lebih tenang, tapi serangan penyakit aneh itu masih kadang muncul. Dan klien juga merasa selalu mengantuk karena pengaruh obat penenang. Psikiater menyarankan klien untuk menjalani hipnoterapi sebagai pengobatan komplementer, untuk mecari akar masalah penyebab gangguan psikisnya yang memicu serangan penyakit aneh tsb.
Singkat cerita, klien dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang dalam dan presisi untuk mencari akar masalah yang menyebabkan timbulnya penyakit aneh tsb. Dengan teknik hipnoanalisis, diketahui ternyata ada bagian diri klien yang sengaja memunculkan simptom atau gejala penyakit pada mata klien sehingga pandangannya berputar, badan lemas, keringat dingin bahkan pingsan. Sabotase ini dilakukan supaya klien tidak bisa meraih kesuksesan dalam berkarir. Simptom ini sebenarnya muncul dengan pola tertentu. Saat klien karirnya mulai bagus atau saat klien sedang memikirkan rencana untuk mengembangkan usahanya, simptom penyakit aneh ini dimunculkan oleh pikiran bawah sadar klien supaya klien berhenti. Ini semua terjadi atas program yang sudah ditanamkan oleh ibu klien sendiri. Sejak klien umur 4 tahun, Ibu selalu mengucapkan hal yang sama dan berulang-ulang, apalagi kalau Ibu sedang marah. Ibu selalu bilang agar klien MENGALAH pada adik-adiknya. Perkataan ibu ini menjadi imprint, menjadi program yang ditanamkan secara tidak sengaja ke pikiran bawah sadar klien. Akibatnya, setiap kali klien mau mencapai sukses, pikiran bawah sadar melakukan sabotase dengan memunculkan simptom penyakit aneh tsb. Hanya adik-adik klien yang boleh sukses, klien sebagai kakak harus nengalah.
Dan hal ini betul-betul dikerjakan oleh pikiran bawah sadar klien. Akhirnya dilakukan edukasi ke pikiran bawah sadar klien bahwa sekarang ini adik-adik klien sudah sukses, sudah dewasa, sudah bahagia dengan kehidupannya masing-masing. Jadi sudah cukup bagi klien untuk mrngalah terus. Sabotase yang dilakukan ini bukannya membuat klien bahagia, malah merusak kehidupan klien. Dan minta kepada pikiran bawah sadar untuk menghentikan ulahnya memunculkan simptom penyakit tiap kali klien merencanakan kesuksesan untuk dirinya. Begitulah sifat pikiran bawah sadar, tidak bisa membedakan apakah ini terjadi di masa lalu atau masa sekarang atau masa depan. Pikiran bawah sadar menganggap semua ini terjadi di masa sekarang, NOW. Dan salah satu jalur untuk menembus pikiran bawah sadar adalah ide atau informasi yang disampaikan oleh figur otoritas, dalam kasus ini adalah orangtua, ibu. Dan ini dijadikan sebagai program yang dijalankan, menghambat kehidupan klien.
Karena itu, jagalah betul-betul apa yang kita ucapkan, terutama sebagai orangtua, karena apa yang Anda ucapkan, itulah yang akan terjadi.