Jika Anda Tidak Mampu Memaafkan, maka MASA LALU Anda = MASA SEKARANG = MASA DEPAN Anda

 

Jika Anda Tidak Mampu Memaafkan, maka MASA LALU Anda = MASA SEKARANG = MASA DEPAN Anda

 

Apakah Anda pernah mendengar ungkapan ‘hidup di bawah bayang-bayang masa lalu?’ Ungkapan ini ternyata benar adanya, terbukti dari kisah nyata klien saya berikut ini…

Dewi, begitulah dia biasa dipanggil. Seorang wanita paruh baya yang energik, seorang single parent dan memiliki dua orang anak. Suami Dewi meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Tapi hal ini tidak membuat Dewi terpuruk dalam duka yang berkepanjangan. Menyadari tanggung jawabnya sebagai ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya, Dewi semakin giat bekerja.

Sejak masih gadis, Dewi sudah memiliki usaha sendiri, menjadi pengusaha garment, khusus baju anak-anak. Bakat berbisnis dalam diri Dewi membuatnya sukses menjual baju anak-anak, dagangannya laku keras. Tapi semua itu berubah sejak tiga tahun lalu, saat suami Dewi meninggal. Dagangannya jadi sepi pembeli, omset menurun drastis. Tadinya Dewi berpikir mungkin ini akibat kesedihan yang dirasakan sepeninggal almarhum suaminya. Tapi ternyata tidak, walaupun ada rasa sedih itu, tapi Dewi bisa tetap beraktivitas normal seperti biasanya, tetap bisa tidur nyenyak, karena Dewi selalu menanamkan sugesti positif ke dalam dirinya, Dewi harus bisa memberikan kehidupan yang terbaik dan normal bagi kedua anaknya walaupun ayah mereka telah tiada.

Belakangan diketahui ternyata menurunnya pembeli dagangan Dewi adalah fitnah yang dilancarkan oleh pedagang sebelah kios Dewi, yang juga menjual baju anak-anak. Tetangga kios sebelah ini iri terhadap kesuksesan Dewi. Dia menyebarkan fitnah kemana-mana bahwa Dewi adalah janda muda yang suka menggoda suami orang. Bahwa kesuksesan Dewi selama ini karena menjual diri ke laki-laki hidung belang, bukan semata-mata dari hanya berdagang baju anak. Fitnah yang tidak kalah kejinya, dihembuskan berita bahwa suami Dewi akhirnya jatuh sakit karena stress melihat ulah Dewi. Bahkan sakitnya suami tambah parah dan akhirnya meninggal.

Berita ini akhirnya sampai ke telinga Dewi, dari pelanggan setianya yang memberanikan diri untuk menanyakan kebenaran berita ini. Dewi shock, kaget, marah, sedih, dan berbagai emosi lainnya dirasakan campur aduk. Dewi lemas, gemetar, kepalanya terasa berputar. Dewi tidak percaya bagaimana mungkin tetangga kiosnya ternyata tega memfitnah dirinya. Selama berdagang sama-sama sejak lima tahun lalu, Dewi selalu bersikap baik terhadap tetangga kiosnya, kok bisa tega berbuat seperti itu untuk merebut pelanggan-pelanggan Dewi.

Karena tidak mau ribut, akhirnya Dewi memutuskan untuk pindah lokasi berdagang. Dewi bertekad untuk membuka lembaran baru, strategi baru untuk meningkatkan omset penjualannya. Segala usaha marketing dilakukan, termasuk berdagang online. Tetapi anehnya, dagangannya tetap sepi, tidak bisa ramai lagi seperti dulu. Dewi pun bingung.

Akhirnya Dewi memutuskan untuk melakukan sesi hipnoterapi, untuk mencaritahu apa yang mensabotase dirinya untuk sukses berdagang lagi seperti dulu. Dewi memiliki wawasan yang luas dan senang membaca. Dewi senang mendengarkan sugesti positif untuk menenangkan dirinya, dan ini berhasil dilakukannya saat melewati masa berkabungnya saat suaminya meninggal , sehingga Dewi bisa bangkit lagi. Tapi kali ini, usaha Dewi memprogram pikirannya untuk tetap berpikir positif kurang berhasil. Seperti ada rasa takut, khawatir, trauma difitnah orang lagi.

Lewat wawancara mendalam dengan Dewi diketahui ternyata selama ini Dewi masih merasakan rasa tidak nyaman, marah, kecewa, sulit untuk memaafkan tetangga kiosnya yang dulu, tiga tahun lalu, telah memfitnahnya. Saat diminta untuk menyebut nama si tetangga kios, nada suara Dewi bergetar menahan marah, apalagi saat diminta membayangkan kejadiannya, air mata Dewi mengucur deras. Padahal ini kejadian di masa tiga tahun lalu, dan sebelumnya Dewi mengaku sudah ikhlas, sudah memaafkan tetangga kiosnya, sudah memintakan ampunan untuk tetangga kiosnya itu pada Tuhan. Ternyata, semua itu hanya di bibir saja, bara api emosi masa lalu itu masih berkobar di dalam hatinya.

Dalam kondisi hipnosis yang dalam, terungkap bahwa pikiran bawah sadar Dewi ternyata tidak mengijinkan Dewi untuk sukses maju dalam berdagang, sebelum Dewi betul-betul bisa memaafkan tetangga kiosnya itu. Betul-betul memaafkan dari hati, betul-betul ikhlas. Bagaimana kita bisa tahu apakah kita sudah betul-betul bisa memaafkan dari hati ? Gampang saja, saat kita menyebut namanya, membayangkan orangnya, membayangkan kejadiannya, bahkan bila berjumpa lagi dengan orangnya, kita merasa nyaman-nyaman saja, biasa-biasa saja, netral. Pikiran bawah sadar Dewi juga memberitahu, sebelum Dewi bisa betul-betul memaafkan, Dewi tidak akan diijinkan untuk maju ke masa depan.  Dewi akan mengeluarkan getaran / vibrasi negatif dari emosi marahnya terhadap tetangga kios di masa lalu, yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya, oleh calon-calon pembeli yang datang ke kiosnya, sehingga vibrasi negatif ini malah akan menjauhi, ‘mengusir’ calon-calon pembeli tanpa Dewi sadari. Vibrasi negatif akan menarik kejadian negatif, begitupun sebaliknya, vibrasi positif akan menarik kejadian positif. Inilah yang disebut sebagai Law of Attraction ( LOA ). LOA tidak bisa membedakan kejadian positif atau negatif.

Dalam kasus Dewi, berlaku hukum pikiran bawah sadar, bahwa MASA LALU = MASA SEKARANG = MASA DEPAN, jika Dewi tetap menyimpan dendam dan amarah masa lalunya, yang dia bawa terus setiap hari dalam hidupnya, sehingga dia terbelenggu, bagaikan kakinya diikat dengan rantai bola besi yang berat, yang harus dia seret-seret sepanjang hari, sehingga kaki Dewi berat untuk bisa melangkah ke masa depan, mencapai kesuksesan kemajuan dalam berdagang.

Dengan bisa memaafkan / forgiveness, maka hukum pikiran bawah sadar yang berlaku adalah Masa Lalu TIDAK SAMA DENGAN Masa Sekarang TIDAK SAMA DENGAN Masa Depan. Forgiveness adalah cara untuk melepas dan membuang rantai bola besi yang membelenggu langkah kaki Dewi selama ini. Akhirnya, dengan teknik tertentu, Dewi dibantu untuk melepaskan emosi negatif masa lalunya, setelah emosinya clear, barulah Dewi  betul-betul bisa memaafkan . Dewi benar-benar merasa lega, hatinya plong, seperti ada beban berat yang betul-betul lepas dari badannya. Hatinya terasa ringan, nyaman, damai dan tenang. Dewi memaafkan tetangga kiosnya, bahkan mampu mendoakan yang baik-baik untuk tetangganya itu. Vibrasi Dewi sekarang sungguh terasa positif, sehingga orang-orang yang bertemu dengannya merasa nyaman dan tertarik untuk membeli dagangannya. Dewi telah melangkah maju dengan ringan dan mantab meraih masa depannya.

Sebulan setelah sesi terapi, Dewi mengabarkan bahwa dagangannya laris manis, banyak pembeli. Belum lagi pesanan online yang ramai, sehingga Dewi harus menambah pegawai untuk membantunya. Dewi bahagia dan semakin positif menjalani kehidupannya bersama anak-anak tercinta.