SERING DITIPU REKAN BISNIS KARENA SABOTASE DIRI
Suatu siang yang terik, saya berjumpa dengan klien pria paruh baya , sebut saja Budi, yang sedang galau berat karena dililit hutang 7 Milliar rupiah dan dikejar-kejar debt collector.
Rumah, mobil, harta benda habis dijual untuk bayar hutang, tapi belum lunas juga. Hubungan personal dengan anak istri juga tidak harmonis karena Budi hidup dalam kecemasan yang tinggi. Depresi? Sudah pasti.
Melalui wawancara mendalam saat sesi pertama terapi didapat data, ternyata hubungan personal Budi dengan bapaknya sangat buruk. Dari kecil sampai sekarang Budi telah dewasa, relasi Budi dengan bapaknya tidak harmonis. Setiap kali Budi bercerita tentang bapaknya, terlihat jelas raut muka memendam amarah yang besar terhadap bapak. Lho, apa hubungannya emosi negatif terhadap Bapak dengan sering ditipu rekan bisnis sampai dililit hutang 7 M ? Ternyata, sangat berhubungan, bahkan inilah yang menjadi akar masalah sabotase diri Budi.
Dalam ilmu pikiran, pikiran bawah sadar 95 % mempengaruhi, bertanggungjawab, menentukan keputusan dalam aktivitas berpikir, sehingga perilaku, sikap, tutur kata, emosi dalam kehidupan kita ditentukan oleh pikiran bawah sadar, sedangkan pikiran sadar hanya 5 % (riset oleh Azegedy-Maszak, thn 2005).
Semua data dan informasi, baik itu peristiwa, tempat, warna, suara, memori, bahkan emosi negatif maupun positif tersimpan dengan rapi di pikiran bawah sadar. Ibarat komputer, pikiran bawah sadar adalah hard disc nya.
Salah satu karakteristik pikiran bawah sadar adalah bila ada suatu kejadian awal yang menimbulkan emosi negatif, pikiran bawah sadar menuntut emosi negatif ini dibereskan, dengan cara memunculkan kejadian-kejadian serupa atau mirip dengan kejadian awal supaya kita mencari pertolongan. Pikiran bawah sadar tidak bisa melakukan resolusi trauma. Ini disebut Efek Bola Salju.
Dan pada saat gerbang pikiran bawah sadar terbuka lebar, perkataan apapun yang diucapkan, positif maupun negatif, baik sengaja atau tidak sengaja, akan diterima sebagai sugesti dan langsung dijalankan oleh pikiran bawah sadar. Pada anak usia 0-11 tahun, yang dominan adalah pikiran bawah sadarnya. Jadi apapun yang dikatakan oleh orang tua, pengasuh, guru ataupun orang terdekat yang merupakan figur otoritas akan langsung dijalankan sebagai program.
Dalam kasus Budi, melalui teknik hipnoanalisis yang dilakukan saat Budi berada dalam kedalaman profound somnabulism yang presisi, diketahui akar masalahnya adalah rasa sakit hati Budi yang mendalam terhadap bapaknya saat Budi umur 6 tahun.
Saat itu Budi menderita penyakit rabun senja, jadi bila magrib penglihatan Budi menjadi buram. Bapak minta Budi mengambil balok kayu, tapi karena matanya buram, Budi salah ambil. Bapak marah-marah dan memaki Budi anak bodoh, tidak becus. Budi kecil menangis dan takut. Bapak sadar bahwa Budi menderita rabun senja. Karena jaman dulu, Bapak memakai resep tradisional, mengobati mata Budi dengan air ludah Bapak sendiri. Maksud Bapak baik, tapi pikiran bawah sadar Budi kecil menangkap lain, Bapak benci sama Budi. Mata Budi diludahi Bapak. Memori dan emosi negatif yang dirasakan Budi kecil terbawa terus sampai Budi dewasa. Sejak peristiwa itu, muncul dendam dalam diri Budi dan terbentuklah bagian diri Budi yang ingin menunjukkan ke Bapak bahwa Budi bukan laki-laki tidak becus, Budi bisa punya bisnis.
Ternyata bagian diri Budi inilah yang mengambil alih kendali setiap ada proyek bisnis, tujuannya hanya ingin menunjukkan ke Bapak bahwa Budi bisa dapat proyek bisnis. Tapi bagian diri Budi ini hanya ambisi semata, mengabaikan unsur-unsur penting lain yang harus dipertimbangkan, terutama dengan siapa Budi berpartner menjalankan bisnisnya. Akibatnya Budi berulangkali ditipu, uang modal pinjaman ke bank dibawa kabur. Saat bagian diri ini aktif, bagian diri Budi yang lain, terutama pikiran sadar Budi seolah lumpuh. Budi seperti tidak mampu berpikir jernih, sehingga setelah kejadian, penyesalan yang terjadi. Tapi herannya, Budi selalu jatuh ke dalam lubang yang sama, seperti tidak pernah belajar dari kesalahan.
Ditinjau dari ilmu pikiran, apa yang dilakukan oleh pikiran bawah sadar Budi adalah menjalankan program yang ditanamkan oleh Bapak saat memarahi Budi ketika kecil. Kata-kata negatif laki-laki bodoh, tidak becus , diterima sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar dan langsung dijalankan sebagai program sampai Budi dewasa. Akibatnya Budi berulang-ulang ditipu rekan bisnisnya. Begitu pula dengan emosi negatif Budi, dendam terhadap Bapak. Pikiran Budi selalu dominan memikirkan hal-hal yang negatif terhadap Bapak, akibatnya pikiran bawah sadar Budi 'menarik' hal-hal negatif ke dalam kehidupan Budi. Budi selalu dipertemukan dengan orang-orang yang tidak baik saat berbisnis.
Sesuai hukum dalam teori pikiran, apapun yang Anda pikirkan, Anda rasakan, itulah yang menjadi realita bagi Anda. Jika anda selalu berpikir positif, hanya kejadian-kejadian positif yang akan terjadi dalam hidup Anda. Begitupula sebaliknya.
Melalui 2 sesi hipnoterapi, Budi dapat melepaskan semua emosi negatifnya terhadap Bapak, menemukan akar masalahnya, memaafkan Bapak dan memaafkan dirinya sendiri, bernegosiasi dengan bagian dirinya yang mengendalikan keputusan saat berbisnis untuk berganti peran yang lebih bermanfaat untuk Budi. Selang 2 minggu setelah terapi, Budi mengabarkan bahwa sekarang dia sudah bisa ngobrol dengan Bapak, sabar menemani Bapak di rumah, hal yang tidak pernah bisa dia lakukan sebelumnya. Hubungan Budi dengan istri dan anak-anaknya juga lebih dekat. Negosiasi dengan bank untuk cicilan pembayaran hutang juga dikabulkan. Budi sudah bekerja lagi sebagai karyawan swasta sambil buka usaha kecil-kecilan, antar jemput anak sekolah dengan mobil yang masih ada. Budi yang sekarang sudah berbeda dengan Budi yang dulu.
Budi menjalani kehidupannya dengan optimis, berpikir positif, sehingga hanya hal-hal yang baik sajalah yang datang dalam kehidupan Budi. Demikianlah Kenyataannya.
Penulis : drg. Yosephine Meity L, C.Ht, CT (hypnotherapist, member of Adi W Gunawan Institut of Mind Technology)